Biodiesel Minyak Jelantah, Solusi Energi Hijau UNIMMA - Detektif Otomotif

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 07 September 2025

Biodiesel Minyak Jelantah, Solusi Energi Hijau UNIMMA

Featured Image

Universitas Muhammadiyah Magelang Berkontribusi dalam Pengembangan Biodiesel dari Minyak Jelantah

Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali menunjukkan perannya dalam pengembangan energi terbarukan melalui penelitian yang menghasilkan kontribusi signifikan. Dalam sebuah artikel berjudul “Biodiesel Production from Waste Cooking Oil: Characterization, Modeling and Optimization”, para peneliti UNIMMA membuktikan potensi besar minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel.

Penelitian ini dilakukan dengan memproses minyak goreng bekas dari restoran dan rumah tangga menjadi biodiesel menggunakan metode transesterifikasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar viskositas minyak yang awalnya tinggi dapat ditekan hingga 91 persen. Menurut Muji Setiyo, dosen Teknik Otomotif UNIMMA, penggunaan katalis NaOH menjadi faktor paling signifikan dalam meningkatkan hasil biodiesel.

Metode Optimasi dalam Produksi Biodiesel

Dalam proses optimasi, tim peneliti menggunakan dua pendekatan utama, yaitu Response Surface Methodology (RSM) dan Artificial Neural Network (ANN). Hasil uji menunjukkan bahwa yield biodiesel mencapai 91,30 persen melalui RSM, sementara ANN memberikan prediksi yang lebih tinggi, yaitu 92,88 persen. Muji menjelaskan bahwa pendekatan berbasis kecerdasan buatan ini mampu memberikan prediksi yang lebih akurat dibandingkan metode statistik konvensional.

Selain itu, biodiesel yang dihasilkan telah memenuhi standar internasional ASTM D6751. Uji laboratorium menunjukkan nilai viskositas sebesar 4,29 mm²/s dan nilai kalor sebesar 38 MJ/kg, yang mendekati kualitas solar murni. "Dengan kualitas tersebut, biodiesel dari minyak jelantah dapat digunakan langsung pada mesin diesel tanpa perlu dicampur bahan lain," jelas Muji.

Kandungan Asam Lemak dan Angka Setana

Analisis lanjutan menunjukkan bahwa biodiesel dari minyak jelantah memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh sebesar 56,33 persen, dengan dominasi asam oktadekadienoat. Kandungan inilah yang memengaruhi angka setana biodiesel mencapai 52, yang lebih tinggi dari solar konvensional.

Hasil analisis ANOVA juga menegaskan kembali peran penting konsentrasi katalis dalam menentukan hasil biodiesel. Sementara itu, suhu reaksi ternyata tidak terlalu signifikan. "Temuan ini penting sebagai acuan industri agar produksi biodiesel dapat dilakukan secara efisien tanpa pemborosan energi," tambah Muji.

Manfaat dan Potensi Biodiesel dari Minyak Jelantah

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah tidak hanya mengurangi limbah rumah tangga dan restoran, tetapi juga menjadi solusi untuk menghadapi tantangan krisis energi. "Jika dikelola dengan baik, minyak bekas dapat menjadi sumber energi alternatif yang berkelanjutan, sekaligus mendukung kemandirian energi bangsa," ungkap Muji.

Artikel yang dipublikasikan di jurnal Mechanical Engineering for Society and Industry Vol. 1, No. 1 (2021), halaman 22–30 ini diharapkan menjadi dasar bagi riset lanjutan sekaligus mendorong implementasi biodiesel berbasis minyak jelantah dalam skala industri. Dengan temuan ini, UNIMMA menunjukkan peran nyata dalam inovasi energi hijau yang ramah lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here