Minyak Jelantah sebagai Bahan Bakar Pesawat - Detektif Motor

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 24 Agustus 2025

Minyak Jelantah sebagai Bahan Bakar Pesawat

Featured Image

Inovasi Baru dalam Pengelolaan Limbah Domestik

Indonesia kini memasuki babak baru dalam pengelolaan limbah domestik dengan inovasi yang mengubah minyak goreng bekas menjadi bahan bakar pesawat. Untuk pertama kalinya, minyak jelantah berhasil diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) oleh PT Pertamina (persero). Inovasi ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil.

Penerbangan perdana menggunakan SAF berbahan baku UCO dilakukan oleh maskapai Pelita Air pada rute Jakarta-Bali. Langkah ini menandai dimulainya peluncuran komersial dari produk yang telah melalui berbagai proses uji coba dan standarisasi. Dengan dukungan pemerintah, inovasi ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo, yaitu ketahanan energi dan swasembada.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari Asta Cita yang harus terus dilaksanakan. Ia menekankan pentingnya kemandirian energi, bukan hanya dalam hal ketahanan, tetapi juga dalam swasembada sumber daya.

Standar Kualitas dan Keamanan

Bioavtur yang diproduksi di Kilang RU IV Cilacap telah memenuhi standar kualitas nasional melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 70 Tahun 2025. Selain itu, produk ini juga memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan Defstan 91-091, sehingga aman digunakan pada pesawat terbang. Hal ini menjadi salah satu keunggulan utama dari inovasi ini, karena menawarkan solusi nyata bagi industri penerbangan untuk mengurangi jejak karbon tanpa mengorbankan keselamatan atau performa pesawat.

Program Pengumpulan Minyak Jelantah

Untuk memastikan pasokan bahan baku yang stabil, Pertamina mengajak masyarakat berpartisipasi melalui program pengumpulan minyak jelantah. Saat ini, sudah ada 35 titik pengumpulan di lokasi-lokasi strategis, yang memberikan kemudahan bagi warga dalam mengelola limbah rumah tangga. Selain itu, warga juga dapat menerima saldo rupiah sebagai insentif, yang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proyek ini.

Langkah Praktis dalam Transisi Energi Bersih

Momentum ini menunjukkan bahwa transisi energi bersih di Indonesia bukan sekadar wacana, tetapi merupakan rangkaian langkah praktis. Mulai dari pemanfaatan potensi bioenergi, integrasi teknologi kilang, hingga partisipasi masyarakat dalam pasokan bahan baku. Meskipun begitu, masih ada tantangan yang perlu dihadapi, terutama dalam pengembangan bioetanol dan penguatan kerja sama lintas lembaga.

Pertamina, bersama seluruh stakeholder, telah membuktikan kemampuan mereka dalam biodiesel. Namun, tantangan besar masih ada dalam pengembangan bioetanol. Menurut perusahaan, tidak cukup hanya sektor hilir yang bertanggung jawab, tetapi diperlukan kolaborasi yang lebih luas.

Sejarah Pengembangan SAF

Pengembangan SAF ini bukanlah lompatan tanpa jejak. Sejak 2021, Pertamina bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghasilkan bahan bakar dengan campuran bioavtur hingga 2,4% (J2,4) melalui mekanisme coprocessing di TDHT 1 RU IV Cilacap.

Uji coba pertama dilakukan pada bulan Oktober 2021 menggunakan pesawat teregistrasi militer Dirgantara Indonesia, CN235-200 FTB, dengan rute Bandung-Jakarta. Dua tahun kemudian, pada Oktober 2023, pengujian dilanjutkan untuk pesawat komersial dengan uji terbang Boeing 737-800 milik Garuda rute Jakarta-Solo-Jakarta. Rangkaian uji coba ini memperkuat bukti kesiapan penggunaan bahan bakar hijau pada armada pesawat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here