AS Menghadapi Kenaikan Harga Energi dari Kebijakan Biodiesel Baru - Detektif Motor

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 03 Agustus 2025

AS Menghadapi Kenaikan Harga Energi dari Kebijakan Biodiesel Baru

AS Menghadapi Kenaikan Harga Energi dari Kebijakan Biodiesel Baru

Peringatan dari Industri Energi dan Biofuel AS terkait Kebijakan Biodiesel "America First"

Pada hari Jumat (1/8/2025), sejumlah kelompok industri energi dan biofuel di Amerika Serikat (AS) menyampaikan peringatan bahwa kebijakan biodiesel "America First" yang diperkenalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump berpotensi meningkatkan harga energi dan membatasi produksi dalam negeri. Peringatan ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku biodiesel impor.

Di bulan Juni 2025, proposal yang diajukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) mulai menimbulkan kontroversi di kalangan pelaku industri, termasuk sektor pertanian dan energi yang selama ini menjadi pendukung utama Trump. Proposal tersebut mencakup pembatasan insentif bagi bahan baku biodiesel asing, yang menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak.

Penyusunan Proposal EPA dan Respons Awal Industri

EPA AS secara resmi mengusulkan aturan baru yang mewajibkan produsen biodiesel dan minyak nabati menggunakan bahan baku domestik. Aturan ini menetapkan bahwa hanya 50 persen nilai kredit Renewable Identification Number (RINs) akan diberikan untuk biodiesel berbahan baku asing.

Tujuan dari aturan ini adalah untuk meningkatkan keamanan energi dan membangun pasar domestik yang lebih kuat. EPA menargetkan total blending biodiesel mencapai 5,61 miliar galon pada tahun 2026 dan 5,86 miliar galon pada tahun 2027, yang jauh lebih tinggi dibandingkan 3,35 miliar galon pada tahun 2025.

Seorang pejabat EPA, Lee Zeldin, menyatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk memberi kepastian bagi petani dan memperluas kapasitas produksi nasional yang sangat dibutuhkan sektor pertanian. Sementara itu, Brooke Rollins, Sekretaris Pertanian, juga menyampaikan bahwa keputusan ini akan membantu memperkuat ekonomi pertanian.

Dampak Biaya dan Kekecewaan Pelaku Usaha

Asosiasi Advanced Biofuels menyatakan bahwa kebijakan baru ini dapat meningkatkan biaya produksi hingga 250 dolar AS (sekitar Rp4,1 juta) per metrik ton pada bahan baku domestik dibandingkan bahan baku impor.

Presiden American Fuel and Petrochemical Manufacturers, Chet Thompson, dalam suratnya menyampaikan bahwa pembatasan kredit ini akan mengancam kelangsungan ekonomi fasilitas produksi bahan bakar terbarukan dan meningkatkan beban kepatuhan bagi seluruh pelaku industri. Ini pada akhirnya akan merugikan konsumen Amerika sendiri.

Michael McAdams, Presiden Advanced Biofuels Association, juga menyampaikan bahwa strategi ini akan berdampak besar pada lonjakan harga, mempersulit kilang-kilang biofuel, dan hanya menguntungkan sebagian kelompok tertentu.

Perselisihan Politik dan Dampak terhadap Produksi Domestik

Surat keberatan dari American Fuel and Petrochemical Manufacturers dilayangkan kepada sejumlah anggota Kongres pada Selasa (29/7/2025). Surat tersebut menyebutkan bahwa jika kebijakan ini diberlakukan, beban kepatuhan bisa mencapai 70 miliar dolar AS (sekitar Rp1,1 kuadriliun).

Dalam surat tersebut, disampaikan penilaian tegas bahwa kebijakan ini mengancam keberlanjutan ekonomi pelaku kilang minyak nasional dan akan menyebabkan penutupan fasilitas produksi, seperti kilang Phillips 66 di Wilmington dan Valero di Benicia yang rencananya akan berhenti beroperasi dalam waktu dekat.

Produsen biodiesel yang biasanya mengandalkan bahan baku dari Jerman, Spanyol, hingga Tiongkok, mengakui tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan produksi domestik jika akses ke bahan baku luar dibatasi. Geoff Cooper, Presiden Renewable Fuels Association, menyatakan bahwa kapabilitas feedstock AS terbatas, dan jika bahan baku impor sulit didapat, pasokan domestik tidak akan sanggup menutupi permintaan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here