Mengapa TKDN Penting di Industri Otomotif Indonesia - Detektif Otomotif

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 03 Oktober 2025

Mengapa TKDN Penting di Industri Otomotif Indonesia

Pengertian dan Peran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam Industri Otomotif

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) semakin menjadi topik yang sering dibicarakan, terutama dalam konteks industri otomotif. TKDN menjadi indikator penting untuk menilai sejauh mana kontribusi industri lokal dalam memproduksi kendaraan bermotor. Dengan adanya peraturan menteri yang mengatur perhitungan TKDN, kini ada tiga unsur utama yang digunakan sebagai dasar perhitungan.

Tiga Unsur Utama dalam Perhitungan TKDN

Pertama, bahan atau material langsung yang mencakup 75 persen dari total biaya produksi. Kedua, tenaga kerja langsung yang berkontribusi sebesar 10 persen. Terakhir, biaya tidak langsung sebesar 15 persen. Ketiga komponen ini membentuk dasar penghitungan TKDN yang diatur oleh Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmad Basuki, menjelaskan bahwa saat ini TKDN sering disalahpahami sebagai "local content" suatu produk. Namun, ia menegaskan bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda. "TKDN berdasarkan Permenperin 35 Tahun 2025 memiliki tiga unsur. Sedangkan 'local content' secara umum merujuk pada persentase part atau komponen yang dibuat di dalam negeri terhadap total biaya mobil atau motor," jelasnya.

Sebagai contoh, jika sebuah mobil diproduksi dengan biaya Rp 100 juta dan nilai part atau komponen yang dibuat di dalam negeri mencapai Rp 80 juta, maka 'local content'-nya adalah 80 persen. Namun, TKDN tidak hanya menghitung komponen lokal, tetapi juga melibatkan aspek lain seperti tenaga kerja dan biaya tidak langsung.

TKDN 100 Persen Otomotif: Apakah Mungkin?

Basuki menegaskan bahwa pencapaian TKDN 100 persen pada kendaraan bermotor masih dianggap mustahil, meskipun diproduksi secara lokal. Hal ini disebabkan oleh adanya rantai pasok global dalam industri otomotif. "Untuk mencapai 100 persen tidak mungkin karena industri mobil dan motor mengacu pada global supply chain. Beberapa part diproduksi di negara tertentu sesuai dengan daya saing masing-masing," tambahnya.

Selain itu, Indonesia belum mampu memproduksi komponen berteknologi tinggi seperti elektronik, digitalisasi, infotainment, dan elektrifikasi. Faktor-faktor ini membuat pencapaian TKDN 100 persen menjadi sulit.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besaran TKDN

Lebih lanjut, Basuki menjelaskan bahwa beberapa faktor memengaruhi besar kecilnya TKDN. Faktor-faktor tersebut termasuk skala ekonomi, teknologi, dan modalitas. Negara-negara dengan pasar dan produksi besar biasanya memiliki kandungan lokal yang tinggi, terutama jika didukung oleh pusat penelitian dan pengembangan (R&D) yang kuat.

"Prosentasi tertinggi TKDN dicapai oleh motor, sekitar 85 persen, sementara mobil berkisar antara 80 persen. Ini benar-benar mencakup part atau komponen yang dibuat dan difabrikasi di dalam negeri. Alasannya, skala ekonomi di Indonesia sudah cukup sehingga harga menjadi kompetitif untuk diproduksi di dalam negeri," jelasnya.

Perbandingan Jumlah Komponen Mobil dan Motor

Secara prinsip, perhitungan local content untuk mobil dan motor memiliki kesamaan, hanya berbeda dalam jumlah komponen. "Kalau mobil, ada sekitar 15.000 hingga 25.000 parts, sedangkan motor terdiri dari 1.800 hingga 2.500 parts, tergantung modelnya," ungkap Basuki.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang TKDN dan peranannya dalam industri otomotif, diharapkan keterlibatan sektor dalam negeri dapat semakin meningkat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here