
Tren Penjualan Motor Listrik yang Menurun dan Strategi Produsen
Penjualan motor listrik di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan pada paruh pertama tahun 2025. Hal ini membuat para produsen harus menyesuaikan strategi agar tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian pasar. Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan adalah belum adanya kejelasan tentang subsidi motor listrik untuk tahun ini.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik (Aismoli), Budi Setiyadi, mengungkapkan bahwa penjualan motor listrik turun sekitar 20%-30% hingga akhir Juli 2025. Kondisi ini memaksa produsen untuk mengurangi produksi agar tidak terjadi penumpukan barang di dealer dan pabrik.
“Pastinya kami mengurangi kapasitas produksi karena permintaan dari konsumen tidak begitu besar,” ujar Budi kepada detektifmotor.com. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian mengenai subsidi motor listrik sejak awal tahun menjadi salah satu penyebab utama penurunan penjualan.
Selain itu, Budi juga menyatakan bahwa saat ini para produsen aktif dalam melengkapi komponen-komponen yang masih kurang pada produk-produk mereka. Selain itu, pabrik-pabrik yang sebelumnya mendapatkan subsidi kini sedang menyiapkan berbagai tipe baru yang siap dipesan oleh konsumen.
Pasar Motor Listrik Masih Menjanjikan
Meski penjualan motor listrik mengalami penurunan, Budi mengatakan bahwa pasar motor listrik di kalangan konsumen individu masih cukup besar. Ia menyoroti penjualan sepeda listrik yang menurutnya memiliki permintaan yang cukup tinggi.
“Ada satu pabrik yang dalam setahun menjual antara 500.000 hingga 700.000 unit. Itu adalah sepeda listrik, artinya minat masyarakat terhadap mobilitas elektrik cukup tinggi,” jelas Budi.
Di luar itu, para APM motor listrik juga mencoba strategi lain untuk meningkatkan penjualan. Di tengah lesunya pasar B2C (business-to-consumer), Budi menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mulai menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan logistik dan transportasi.
Ia mengaku bahwa skema ini sudah dilakukan sejak tahun lalu. Namun, market share motor listrik di perusahaan-perusahaan logistik dan transportasi saat ini masih sangat kecil, hanya sekitar 1%. Dengan demikian, potensi pertumbuhan masih sangat besar.
Namun, meskipun ada peluang di pasar B2B, Budi mengatakan bahwa target utama produsen tetap berada di konsumen individu.
Proyeksi Penjualan Tanpa Subsidi
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu memperkirakan bahwa tanpa adanya subsidi Rp 7 juta per unit seperti pada tahun 2024 lalu, penjualan motor listrik pada periode Agustus–Desember 2025 hanya akan mencapai 7.000–8.000 unit. Angka ini setara dengan sekitar 1.500 unit per bulan.
“Proyeksi ini didasarkan pada tren penurunan sepanjang Januari–Juli 2025 setelah pemerintah mencabut insentif. Subsidi Rp 7 juta per unit menjadi penentu karena secara signifikan menurunkan harga motor listrik hingga bisa bersaing dengan motor konvensional,” ujar Yannes.
Namun, jika subsidi kembali diberlakukan pada Agustus, penjualan berpotensi rebound secara signifikan. Ia memperkirakan, volume penjualan bisa kembali ke kisaran 25.000–30.000 unit atau sekitar 5.000–6.000 unit per bulan, mendekati capaian rata-rata sepanjang 2024 ketika subsidi masih berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar