
Performa Mengecewakan Pecco Bagnaia di Sirkuit Balaton
Francesco “Pecco” Bagnaia, pembalap Ducati Lenovo, menghadapi tantangan berat dalam sesi latihan di Sirkuit Balaton, Jumat (22/8/2025). Harapan untuk kembali menunjukkan performa terbaiknya di lintasan MotoGP kini mulai goyah setelah penampilannya justru memperlihatkan kesulitan yang signifikan.
Bagnaia tampil di luar ekspektasi publik. Alih-alih melaju dengan lancar menggunakan motor GP25 yang dianggap lebih kompetitif, ia justru kesulitan menaklukkan karakteristik teknis dari sirkuit tersebut. Hasilnya, ia gagal menembus kualifikasi Q2 dan hanya mampu menempati posisi ke-14. Raut kekecewaan tergambar jelas dari wajah juara dunia asal Italia ini.
Setelah sesi latihan, Bagnaia secara jujur mengakui kesulitannya. Ia menyebut bahwa sejak awal akhir pekan, ia sudah merasa sulit menghadapi GP25. “Sejujurnya, sejak sebelum akhir pekan dimulai, setelah menjajal Panigale di sini, saya sudah tahu bakal berat dengan GP25,” ujar Bagnaia.
Ia juga menjelaskan bahwa sirkuit ini memiliki tikungan rumit yang membutuhkan pengereman dan teknik membelok yang sempurna. Namun, di situlah ia paling kesulitan. Meski tim sudah memahami hal ini, hasil yang diperoleh tetap sulit diterima.
Hari Bagnaia semakin suram ketika ia menyoroti catatan waktunya. Ia sebenarnya menargetkan masuk 10 besar, namun sektor terakhir menjadi mimpi buruk. “Kami ingin menembus top ten, tapi sektor terakhir saya benar-benar buruk. Itu membuat kami kehilangan banyak waktu. Kecepatan saya secara keseluruhan juga buruk. FP2 besok akan sangat krusial. Kalau tidak ada peningkatan, balapan nanti bakal sangat sulit,” katanya.
Meskipun begitu, Bagnaia tetap berusaha melihat sisi positif. Ia menyebut ada perbaikan meski tipis. “Kabar baiknya, dari pagi sampai sore jarak kami bisa dipangkas setengah. Masih ada satu sesi lagi untuk mencari solusi, dan itu akan kami manfaatkan,” ungkapnya dengan nada optimistis.
Selain persoalan teknis, tekanan mental juga semakin terasa. Bagnaia harus menghadapi kenyataan bahwa rekan setimnya, Marc Marquez, justru tampil lebih meyakinkan. “Sulit rasanya ketika rekan setim bisa memaksimalkan potensi motor, sementara saya masih terjebak. Tapi saya bersyukur kru saya tetap memberi dukungan penuh. Kami akan terus mencari solusi di trek yang memang terkenal sangat menantang ini,” tegasnya.
Musim MotoGP 2025 telah memasuki babak ke-14 dari total 22 seri, dengan GP Hungaria di sirkuit Balaton Park menjadi panggung terbaru. Ini bukan sekadar musim balapan, tetapi era transisi di mana format sprint race mulai mengubah ritme kompetisi, dan sirkuit-sirkuit baru menantang adaptasi pembalap dan tim.
Di tengah semua perubahan, satu hal tetap tak tergoyahkan: dominasi Marc Marquez. Bersama Ducati Lenovo, Marquez memimpin klasemen dengan 418 poin, jauh meninggalkan Alex Marquez dan Francesco Bagnaia yang berusaha mengejar dari kejauhan.
Setelah bertahun-tahun dihantui cedera dan spekulasi pensiun, Marquez justru menjelma jadi figur sentral musim ini. Bukan sebagai legenda yang kembali, tapi sebagai juara yang belum selesai.
Di belakangnya, tim-tim seperti BK8 Gresini Racing dan Pertamina VR46 mulai mencuri perhatian lewat talenta muda dan strategi agresif di sprint race. Pedro Acosta, Fermin Aldeguer, dan Fabio Di Giannantonio menjadi nama-nama yang mulai mengisi ruang narasi baru, meski bayang-bayang Ducati masih terlalu besar untuk digeser.
Dengan delapan seri tersisa, termasuk Mandalika yang dijadwalkan pada awal Oktober, musim ini belum selesai bicara. Bukan soal siapa juara dunia karena Marquez nyaris tak terkejar, tapi soal siapa yang berani menantang dominasi, mencuri podium, dan menulis babak baru di sirkuit-sirkuit yang belum punya sejarah.
MotoGP 2025 adalah musim di mana kecepatan bukan satu-satunya senjata. Adaptasi, strategi, dan ego menjadi bahan bakar utama. Dan di setiap tikungan, cerita baru terus menunggu untuk ditulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar